Thursday, 25 April 2013

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN TERMOREGULASI PADA HEWAN ENDOTERM DAN EKTOTERM



TERMOREGULASI PADA HEWAN ENDOTERM DAN EKTOTERM 
I.    Tujuan Praktikum
a.    Membandingkan metabolisme pada hewan endoterm dan ektoterm.
b.    Menentukan Q10 serta hubunganya dengan suhu.
II.  Dasar Teori
A.    Laju Metabollisme
Metabolisme adalah keseluruhan proses proses kimiawi yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup. Proses metabolisme juga disebuut sebagai reaksi enzimatis, karena seluruh proses metabolisme selalu menggunakan katalisator enzim. Berdasarkan prosesnya metabolisme dibedakan menjadi dua, yaitu anabolisme dan katabolisme (seeley,2003).
Laju metabolisme adalah jumlah total energi yang diproduksi dan dipakai oleh tubuh persatuan waktu (Seeley, 2002). Laju metabolism berkaitan erat dengan respirasi karena respirasi merupakan proses ekstraksi energy dari molekul makanan yang bergantung pada adanya oksigen. Secara sederhana, reaksi kimia dalam respirasi dapat dituiskan sebagai berikut C6H1206 +6O22+H2O+ATP(Tobin, 2005)
Laju metabolism biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya oksigen yang dikonsumsi makhluk jidup persatuan waktu. Hal ini memungkinkan karena oksidasi dari bahan makanan memerlukan oksigen (dalam jumlah yang diketahui) untuk menghasilkan energi yang dapat diketahui jumlahnya juga. Akan tetapi, laju metabolisme biasanya cukup diekspresikan dalam bentuk laju konsumsi oksigen. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen antara lain: suhu, spesies hewan, ukuran badan dan aktivitas (Tobin,2005).
Laju konsumsi Oksigen dapat ditentukan dengan berbagai cara yaitu antara lain dengan menggunakan mikrorespirometer, metode winkler maupun respirometer scholander (Tobin, 2005). Respirometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur rata-rata pernafasan organisme yang mengukur rata-rata pertukaran oksigen dengan karbondioksida (Suripto, 1998). Prinsip kerja alat ini adalah bahwa dalam pernafasan ada oksigen yang digunakan oleh organisme dan ada karbondioksida yang dikeluarkan olehnya (Tobin, 2005).
Berdasarkan pengaruh suhu lingkungan, hewan dibagi menjadi dua golongan, yaitu poikiloterm dan homoiterm. Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi oleh lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar. Hewan seperti ini biasanya disebut dengan hewan berdarah dingin, dan hewan homoiterm sering disebut hewan berdarah panas (Duke’s, 1985).
Perubahan suhu dapat mempengaruhi konformasi protein dan aktivitas enzim.Apabila aktivitas enzim terganggu, reaksi dalam sel pun terganggu. Dengan demikian perubahan suhu tubuh berpengaruh terhadap energy kinetik yang dimiliki oleh setiap molekul zat sehingga peningkatan suhu tubuh akan memberi peluang yang lebih besar kepada berbagai partikel zat untuk saling bertumbukan. Hal ini mendorong berbagai reaksi penting yang mungkin meningkatkan kecepatannya. Jadi, peningkatan laju reaksi dalam sel. Meskipun begitu, jika peningkatan laju reaksi terjadi secara tidak terkendali maka hal itu akan merugikan (Isnaeni, 2006).
Pengukuran laju reaksi secara kuantitatis dapat dilakukan dengan mengukur nilai Q10. Q10 ialah peningkatan laju reaksi atau proses fisiologis yang terjadi untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10˚. Q10 merupakan perbandingan antara laju reaksi (k) pada suhu X ˚C. Pernyataan ini dapat digambarkan dengan rumus berikut:

Keterangan:
Q10= Laju metabolism
k(X+10) ºC = Laju metbolisme pada suhu yang lebih tinggi
k(X) ºC = Laju metabolism pada suhu rendah
Memperhatikan rumus tersebut, jelas bahwa suhu lingkungan akan berpengaruh terhadap aktivitas metabolism di dalam sel tubuh. Oleh karena itu, hewan harus melakukan termoregulasi agar suhu tubuhnya selalu dalam keadaan homeostasis (Isnaeni, 2006).
Hewan berdarah panas adalah hewan yang dapat menjaga suhu  tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya suhunya lebih tinggi dibandingkan suhu lingkungan sekitarnya. Sebagian panas hilang melalui proses radiasi ataupun berkeringat. Melalui evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. Hewan yang berdarah dingin adalah hewan yang suhu tubuhnya kira-kira sama dengan suhu lingkungan sekitarnya. Contoh hewan berdarah panas adalah bangsa burung burung dan mamalia (Guyton, 1987).

1.    Mencit (Mus musculus)
Mencit adalah mamalia yang termasuk dalam suku Muridae (tikus-tikusan) yang berukuran kecil.mencit mudah dijumpai dirumah-rumah dan dikenal sebagai hewan pengganggu karena kebiasaannya menggigit mebel atau barang kecil-kecil lainya, serta bersarang disudut sudut lemari. Hewan ini diduga sebagai mamalia terbanyak kedua di dunia setelah manusia. Mencit sangat mudah menyesuaikan diri dengan perubahan yang dibuat manusia, bahkan jumlahnya yang hidup liar di hutan barangkali lebih sedikit daripada tinggal di perkotaan.
2.    Katak
Katak merupakan hewan ektoterm, suhu tubuhnya yang bergantung pada suhu lingkungan. Pernafasan pada amfibi merupakan perpaduan antara dua alat pernafasan yaitu kulit yang basah dengan paru-paru. Pada lapisan kulit katak terdapat anyaman pembuluh darah yang sangat banyak. Pada waktu menyelam oksigen dari air dapat langsung berdifusi melalui kulit dan langsung masuk ke anyaman pembuluh darah. Paru-paru dalam amfibi berbentuk kantong sederhana. Udara masuk melalui dua buah nostril, masuk melalui saluran pernafasan dan diteruskan ke dalam paru-paru.
B.     Konsumsi Oksigen / Respirasi
Bernafas merupakan proses penghirupan oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Dalam arti lainnya bernafas adalah pertukaran gas oksigen melalui proses difusi. Pada beberapa jenis hewan tertentu terdapat perbandingan antara luas permukaan dan volume tubuh yang cukup besar,sehingga dapat melaksanakan pertukaran gas dan cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya.
Paru-paru merupakan organ yang sangat vital bagi beberapa jenis makhluk hidup diantaranya: mamalia, primata, dan beberapa jenis hewan darat tertentu.
Dalam sistem ekskresi paru-paru berfungsi untuk mengeluarkan CO2 dan H2O. Mekanisme respirasi meliputi proses:
a.       Inspirasi : peristiwa masuknya udara
b.      Eks   pirasi : peristiwa pengeluaran udara (CO2 dan H2O)




III.   Alat Bahan dan Metode Kerja
A.    Alat dan Bahan
Bahan dan alat yang digunakan pada acara praktikum ini antara lain. bahan : KOH 20%, Larutan methilen blue, vasline, es batu, kapas, mencit dan katak. Alat yang dipakai: respirometer, thermometer, kaleng atau toples, kantong plastik dan timbangan.

B.     Metode Kerja
Kapas dibasahi dengan KOH 20%

Diletakkan didasar botoldan dipasang kawat penyangga

Dimasukkan larutan brodie ke pipa gelas U dan ditandai ketinggian cairan dengan marker (pastikan siring pada posisi tertarik keluar dan posisi nol)

Mencit ditimbang Dan dicatat beratnya

Mencit dimasukkan ke dalam botol kemudian ditutup dengan rapat, dengan menambah vaselin agar tidak ada udara yang masuk

Dicatat perilaku/keadaan dan perilaku hewan uji sepanjang perlakuan

Mencit didiamkan beberapa saat, kemudian siring ditekan hingga larutan methilen blue berada pada posisi marker (t0)

Saat mencit dalam botol mengkonsumsi oksigen, air berwarna pada tubing gelas akan bergerak  menuju mencit. Kemudian dikembalikan berwarna ke posisi semula

Siring didorong, dan pergeseran siring menunjukkan volume oksigen yang telah dikonsumsi

Dicatat hasil pembacaan siring setiap 2 menit selama 10 menit kedalam tabel

Diulangi percobaan ini dengan katak

Dan hasilnya dicatat dalam tabel

Dibuat grafik jumlah oksigen yang dikonsumsi per organisme persatuan waktu

Dibuat grafik ke dua, yaitu jumlah oksigen per gram organisme, terhadap satuan waktu

Diulangi percobaan diatas dengan mencit dan katak (diturunkan suhu dalam botol)

botol respirometer dimasukkan ke dalam kaleng dan diletakkan kantong plastik berisi es di sekitar botol

turunkan suhu hingga 10°C

buatlah kembali dua grafik seperti percobaan sebelumnya

data di tulis dalam tabel

IV.   Hasil dan Pembahasan
A.    Hasil
Hasil yang diperoleh dalam praktikum ini yaitu sebagai berikut:
Tabel 1. hasil konsumsi oksigen oleh organisme pada suhu dingin (T0+10)
waktu (menit)
O2 yg dikonsumsi
katak hangat
mencit hangat
0
0
0
1
0
0
2
1
0
3
0
0
4
0
0
5
0
0
6
0,2
2
7
0
0
8
0,6
3
9
0
0
10
0
0

Tabel 2. hasil konsumsi oksigen oleh organisme pada suhu dingin (T0)
waktu (menit)
O2 yg dikonsumsi
katak dingin
mencit dingin
0
0
0
1
1
3
2
0
1,1
3
0
1,2
4
0
1
5
0
0,8
6
0
0,4
7
0
0,4
8
0
0,2
9
0
0,5
10
0
0,4

Tabel . laju metabolisme data kelas.
Hewan uji
Berat badan(g)
Konsumsi oksigen(ml)
Laju konsumsi oksigen(ml/g BB/jam
Q10
Suhu (°C)
perilaku
Mencit hangat
8,9
5
3,37
0,45
30
Aktivitas stabil
Mencit dingin
7,2
9
7,5
20
Aktivitas menurun
Katak hangat
6,35
1,8
1,7
1,54
30
Diam
Katak dingin
5,4
1
1,1
23
Lemas

B.     Pembahasan
Alat respirometer bekerja atas suatu prinsip bahwa dalam pernapasan ada oksigen yang digunakan oleh organisme dan ada karbon dioksida yang dikeluarkan olehnya. Jika organisme yang bernafas itu disimpan dalam ruang tertutup dan karbon dioksida yang dikeluarkan oleh organisme dalam ruang tertutup diikat, maka penyusutan udara akan terjadi. Kecepatan udara dalam ruang itu dapat dicatat (diamati) pada pipa kapiler berskala.
Dalam praktikum ini digunakan larutan KOH 20% yang diteteskan pada kapas. Fungsi dari larutan KOH ini adalah untuk mengikat karbon dioksida (CO2) di dalam toples atau udara luar. Selain penggunaan larutan KOH 20%, digunakan juga larutan methilen blue. Larutan methilen blue ini digunakan untuk untuk mengetahui volume oksigen yang dikonsumsi oleh hewan uji. Kemudian alat siring pada praktikum digunakan untuk mengetahui jumlah oksigen yang dikonsumsi oleh hewan uji. Bahan vaselin yang digunakan berfungsi untuk menghambat atau mencegah terjadinya kebocoran udara pada sambungan. Selanjutnya digunakan es batu yang bertujuan untuk mengetahui jumlah konsumsi oksigen hewan uji pada kondisi dingin. Praktikum ini juga menggunakan thermometer yang berfungsi untuk mengetahui suhu dalam kondisi panas maupun kondisi dingin. Sebelum hewan uji digunakan, terlebih dahulu dilakukan penimbangan, ini bertujuan untuk mengetahui berat badan hewan uji sebelum diberi perlakuan dan setelah diberi perlakuan.
Laju konsumsi oksigen pada masing-masing hewan uji ketika suhu diturunkan naik. Hal ini disebabkan oleh adanya pengeluaran panas darii tubuh hewan uji yang terlalu besar sehingga menyebabkan hewan uji sangat membutuhkan banyak oksigen.
Kebutuhan oksigen pada masing-masing hewan uji terhadap laju konsumsi oksigen, yaitu ketika jumlah oksigen yang dibutuhkan semakin banyak, maka laju konsumsi oksigen semakin sedikit. Ketika ukuran tubuh semakin kecil maka laju konsumsi oksigen semakin banyak. Hal ini disebabkan oleh adanya luas permukaan tubuh hewan yang lebih besar sehingga membutuhkan konsumsi oksigen yang banyak untuk malakukan laju metabolisme yang tinggi. Hubungan hewa endoterm atau ektoderm terhadap laju konsumsi oksigen yaitu hewan endoderm lebih banyak laju konsumsi oksigenya karena hewan endoderm dalam menghangatkan tubuhnya membutuhkan energi yang tinggi melalui proses metabolisme sehingga oksigen yang dibutuhkan lebih tinggi. Sedangkan hewan ektoterm, dalam menghangatkan tubuhnya menggunakan suhu lingkungan, jadi tidak begitu banyak membutuhkan oksigen untuk proses metabolisme.

Grafik 1. Jumlah oksigen yang dikonsumsi katak dan mencit pada suhu dingin
Pada grafik hubungan antara jumlah oksigen yang dikonsumsi per waktu menunjukkan bahawa mencit dingin lebih banyak membutuhkan banyak oksigen, karena dalam proses menghangatkan tubuhnya mencit membutuhkan banyak oksigen untuk proses metabolismenya. Pada katak dingin membutuhkan oksigen lebih sedikit daripada mencit dingin, ini dikarenakan katak termasuk dalam hewan ektoderm yang menyesuaikan suhu tubuh dengan lingkungan, jadi katak tidak perlu menggunakan banyak oksigen dalam keadaan dingin.

Grafik 2. Jumlah oksigen yang dikonsumsi katak dan mencit pada suhu kamar
Pada grafik ini mencit hangat membutuhkan oksigen yang lebih tinggi daripada katak hangat. Dan jumlah oksigen yang dikonsumsi katak hangat lebih banyak daripada katak dingin.

Grafik 3. Hubungan Laju konsumsi oksigen vs berat badan organisme uji pada suhu dingin
Grafik hubungan antara laju konsumsi oksigen dengan berat badan menunjukkan bahwa berat badan uji yang semakin kecil maka konsumsi oksigenya akan semakin kecil atau sedikit. Grafik yang tercantum diatas adalah tepat, karena pada berat badan organisme kecil maka laju konsumsi oksigen ikut kecil pula, dan pada berat badan yang lebih tinggi, maka laju konsumsi oksigen semakin tinggi pula.

V.      Kesimpulan
Metabolisme pada hewan endoterm lebih besar daripada hewan ektoderm. Hewan endoterm melakukan metabolisme untuk meningkatkan suhu dalam tubuh, sehingga membutuhkan banyak oksigen. Hubungan laju konsumsi oksigen dengan suhu yaitu berbanding lurus, semakin tinggi suhu maka semakin tinggi juga laju konsumsi oksigennya. Laju konsumsi oksigen pada beberapa spesies yang berbeda maka nilainya berbeda-beda pula. Semakin besar ukuran tubuhnya maka semakin besar pula laju konsumsi oksigen yang dibutuhkan.

VI.      Daftar Pustaka
Duke, NH. 1995. The Physiology of Domestic Animal.Comstock Publishing: New York.
Guyton, D.C.1993. Fisiologi Hewan. Edisi 2, EGC. Jakarta.
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius
Seeley,RR., T.D> Stephens, P. Tate. 2003. Thomson Brooks/Cole, Canada.
Suripto. 1998. Fisiologi Hewan. Bandung: ITB
Tobin. AJ.2005 Asking About Life Mc Graw Hill Company, Inc, USA Seeley, R,R, TD. Stephens. P, Tate. 2003. Essensials of Anatomy and Physiofourt edition McGraw-Hill Companies.

Monday, 22 April 2013

“CLONING DALAM KACAMATA ISLAM”


“CLONING DALAM KACAMATA ISLAM”

Pendahuluan
            Pada dasarnya manusia diciptakan oleh Allah berbeda dengan makhluk makhluk lainya. Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna dari makhluk makhluk lain, hal ini karena Allah memberikan suatu karunia luar biasa yang berupa “Akal” pada diri manusia yang tidak diberikan kepada makhluk lain. Pada kisahnya Malaikat, Jin, dan syetan pun diperintahkan Allah untuk sujud kepada Adam (yang merupakan manusia pertama yang diciptakan Allah) karena kelebihan dari akal yang dimilikinya.
            Masa demi masa yang terus berjalan dan terus berkembang, memang sifat manusia itu tidak akan pernah merasa puas terhadap apa yang sudah dimilikinya, sehingga manusia ini terus menggunakan akalnya untuk mencari dan terus mencari suatu hal yang baru. Dengan akal ini manusia akan terus berfikir dan selalu mencari masalah untuk di selesaikan dan mengaitkannya dengan teknologi modern. Teknologi yang semakin modern ini akan semakin memanjakan manusia untuk melakukan berbagai hal-hal yang menarik dan aneh. Manusia melakukan kegiatan seperti ini yang bisa disebuk kegiatan bioteknologi sebenarnya bukan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan, tetapi menurut hemat saya manusia hanya bertujuan untuk memenuhi nafsu mereka, karena sebenarnya kebutuhan adalah hanya sebatas untuk keperluan hidup. Berbeda dengan nafsu, nafsu pada dasarnya adalah rasa ingin menguasai atau memiliki apa yang diinginkan.
            Terkait dengan maraknya masalah kloning, Islam tidak boleh berdiam diri dan bersikap statis. Penerapan tekhnologi biologi ini memang pada mulanya hanya menyentuh ranah pengetahuan ilmiah belaka karena ia dihasilkan melalui proses (science exploration). Tetapi secara langsung maupun tidak langsung, kloning dapat saja memporak-porandakan sendi-sendi ajaran agama dan etika universal. Pada tataran ini kloning tidak saja berada pada ranah ilmu pengetahuan, tetapi lebih jauh dari itu ia telah melakukan loncatan yang cukup jauh terhadap disiplin ilmu lain seperti etika, social, ekonomi, gender, dan juga ilmu agama.

Istilah Cloning
            Secara etimologis, kloning berasal dari kata “clone” yang diturunkan dari bahasa Yunani “klon”, artinya potongan yang digunakan untuk memperbanyak tanaman. Kata ini digunakan dalam dua pengertian, yaitu :
a.       Klon sel yang artinya menduplikasi sejumlah sel dari sebuah sel yang  memiliki sifat-sifat genetiknya identik. dan
b.      Klon gen atau molekular, artinya sekelompok salinan gen yang bersifat identik yang direplikasi dari satu gen dimasukkan dalam sel inang.
Sedangkan secara terminologis, kloning adalah proses pembuatan sejumlah besar sel atau molekul yang seluruhnya identik dengan sel atau molekul asalnya. Kloning dalam bidang genetika merupakan replikasi segmen DNA tanpa melalui proses seksual. Itulah sebabnya kloning juga dikenal dengan istilah rekombinasi DNA. Rekombinasi DNA membuka peluang baru dalam terobosan teknologi untuk mengubah fungsi dan perilaku makhluk hidup sesuai dengan keinginan dan kebutuhan manusia (Daulay. 2005).
Dalam perkembangan biologi molekuler, sekarang dimungkinkan klonasi pada bagian yang lebih kecil daripada sel, yaitu materi gen. Kemampuan manusia melakukan klonasi gen memunculkan bidang ilmu baru, yang disebut rekayasa genetika. Untuk pertama kalinya suatu gen berhasil diklonasi dengan teknik DNA rekombinan pada tahun 1973. Hanya dalam selang waktu tiga tahun, teknologi ini sudah dikomersialkan oleh suatu perusahaan di California USA, yaitu Genentech. Sebetulnya klonasi gen juga terjadi secara alami pada beberapa mikroorganisme. Misalnya beberapa mikroorganisme yang semula rentan terhadap antibiotika berubah menjadi klon mikroorganisme yang kebal antibiotika. Klona ini terjadi akibat perbanyakan diri lebih lanjut mikroorganisme induk yang telah kemasukan gen kebal tadi.
Kloning terhadap manusia adalah merupakan bentuk intervensi hasil rekayasa manusia. Setelah keberhasilan kloning domba bernama Dolly pada tahun 1996, para ilmuwan berpendapat bahwa tidak lama lagi kloning manusia akan menjadi kenyataan. Kloning manusia hanya membutuhkan pengambilan sel somatis (sel tubuh), bukan sel reproduktif (seperti sel telur atau sperma) dari seseorang, kemudian DNA dari sel itu diambil dan ditransfer ke dalam sel telur seseorang wanita yang belum dibuahi, yang sudah dihilangkan semua karakteristik genetisnya dengan cara membuang inti sel (yakni DNA) yang ada dalam sel telur itu. Kemudian, arus listrik dialirkan pada sel telur itu untuk mengelabuinya agar merasa telah dibuahi, sehingga ia mulai membelah. Sel yang sudah dibuahi ini kemudian ditanam ke dalam rahim seorang wanita yang ditugaskan sebagai ibu pengandung. Bayi yang dilahirkan secara genetis akan sama dengan genetika orang yang mendonorkan sel somatis tersebut.
Kloning ini diharapkan agar bisa memberikan manfaat kepada manusia, khususnya dibidang medis.
a.       Kloning manusia memungkinkan banyak pasangan tidak subur untuk mendapatkan anak.
b.      Teknologi kloning memungkinkan para ilmuan medis untuk menghidupkan dan mematikan sel-sel. Dengan demikian, teknologi ini dapat digunakan untuk mengatasi kanker. Di samping itu, ada sebuah optimisme bahwa kelak kita dapat menghambat proses penuaan berkat apa yang kita pelajari dari kloning.
c.       Teknologi kloning memungkinkan dilakukan pengujian dan penyembuhan penyakit-penyakit keturunan. Dengan teknologi kloning, kelak dapat membantu manusia dalam menemukan obat kanker, menghentikan serangan jantung, dan membuat tulang, lemak, jaringan penyambung, atau tulang rawan yang cocok dengan tubuh pasien untuk tujuan bedah penyembuhan dan bedah kecantikan.
Pandangan Islam
            Masalah kloning ini merupakan masalah yang kontemporer atau masalah yang baru-baru lahir di era modern ini, yang mungkin belum pernah dibahas dalam hadits ataupun Al-Qur’an, dan ulama’-ulama’ jaman dahulu belum pernah membahas hal ini, khususnya kloning pada manusia. Hanya saja pernah dibahas oleh kebanyakan para ulama’ kontemporer, mereka membahas masalah kloning ini berawal dari ayat dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Hajj.
… Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki …” (QS. 22/al-Hajj: 5).
Abul Fadl Mohsin Ebrahim berpendapat dengan mengutip potongan ayat di atas, bahwa ayat tersebut menampakkan paradigma al-Qur’an tentang penciptan manusia mencegah tindakan-tindakan yang mengarah pada kloning. Dari awal kehidupan hingga saat kematian, semuanya adalah tindakan Tuhan. Segala bentuk peniruan atas tindakan-Nya dianggap sebagai perbuatan yang melampaui batas.
Islam mengakui hubungan suami isteri melalui perkawinan sebagai landasan bagi pembentukan masyarakat yang diatur berdasarkan tuntunan Tuhan. Anak-anak yang lahir dalam ikatan perkawinan membawa komponen-komponen genetis dari kedua orang tuanya, dan kombinasi genetis inilah yang memberi mereka identitas. Karena itu, kegelisahan umat Islam dalam hal ini adalah bahwa replikasi genetis semacam ini akan berakibat negatif pada hubungan suami-isteri dan hubungan anak-orang tua, dan akan berujung pada kehancuran institusi keluarga Islam. Lebih jauh, kloning manusia akan merenggut anak-anak dari akar (nenek moyang) mereka serta merusak aturan hukum Islam tentang waris yang didasarkan pada pertalian darah.
Dari sudut agama dapat dikaitkan dengan masalah nasab yang menyangkut masalah hak waris dan pernikahan (muhrim atau bukan), bila diingat anak hasil kloning hanya mempunyai DNA dari donor nukleus saja, sehingga walaupun nukleus berasal dari suami (ayah si anak), maka DNA yang ada dalam tubuh anak tidak membawa DNA ibunya. Dia seperti bukan anak ibunya (tak ada hubungan darah, hanya sebagai anak susuan) dan persis bapaknya (haram menikah dengan saudara sepupunya, terlebih saudara sepupunya hasil kloning juga). Selain itu, menyangkut masalah kejiwaan, bila melihat bahwa beberapa kelakuan abnormal seperti kriminalitas, alkoholik dan homoseks disebabkan kelainan kromosan. Demikian pula masalah kejiwaan bagi anak-anak yang diasuh oleh single parent, barangkali akan lebih kompleks masalahnya bagi donor nukleus bukan dari suami dan yang mengandung bukan ibunya.
Sebenarnya dalam islam yang sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an telah diajarkan bahwa semua manusia dianjurkan bahkan diwajibkan untuk menuntut ilmu. Masalah kloning ini tidak lain juga sebuah Ilmu yang juga datang dari kehendak Allah. Manusia mempunyai akal adalah disuruh untuk berfikir dalam melakukan tindakan, dan dalam hal kloning ini tentunya sudah digariskan oleh Allah sebuah ilmu untuk difikirkan manusia. Menurut hemat saya bahwa kloning ini adalah kehendak atau Takdir Allah, misalkan manusia menganbil inti sel somatis dari manusia dan difusikan kedalam sel telur atau sel reproduktif dan diberikan kejutan listrik sehingga akan membelah dan terus membelah, dan jika ternyata sel ini hidup dan berkembang menjadi manusia misalnya, maka ini merupakan kehendak dari Allah. Jadi tidak ada salahnya manusia melakukan sebuah kloning tersebut karena kloning ini merupakan ilmu yang bersumber dari Allah. Akan tetapi, setiap tindakan harus dilihat dari dua sisi, yaitu sisi mudharat dan sisi manfaatnya, jika hal itu merupakan hal yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat, maka tidak ada salahnya untuk di lakukan, tetapi jika hal tersebut hanya akan menimbulkan mudharat maka hal tersebut bisa jadi berubah menjadi Haram.
Sebagian ulama yang membolehkan melakukan kloning mengemukakan alasan sebagai berikut:
1.      Dalam Islam, kita selalu diajarkan untuk menggunakan akal dalam memahami agama.
2.      Islam menganjurkan agar kita menuntut ilmu (dalam hadits dinyatakan bahkan sampai ke negri Cina sekalipun).
3.      Islam menyampaikan bahwa Allah selalu mengajari dengan ilmu yang belum ia ketahui (lihat QS. 96/al-’Alaq).
4.      Allah menyatakan, bahwa manusia tidak akan menguasai ilmu tanpa seizin Allah (lihat ayat Kursi pada QS. 2/al-Baqarah: 255).
Dengan landasan yang demikian itu, seharusnya kita menyadari bahwa penemuan teknologi bayi tabung, rekayasa genetika, dan kemudian kloning adalah juga bagian dari takdir (kehendak) Ilahi, dan dikuasai manusia dengan seizin-Nya. Penolakan terhadap kemajuan teknologi itu justru bertentangan dengan prinsip-prinsip yang diajarkan dalam Islam. Sebenarnya terkait dengan ilmu kloning ini tidak begitu masalah bagi kehidupan, tetapi yang bermasalah dalam hal ini menurut saya adalah orang yang mengaplikasikan atau mempraktekkan ilmu kloning itu.
Jika dilihat secara detail lagi, maka kegiatan kloning manusia ini lebih banyak menimbulkan banyak madharatnya daripada kebaikannya. Selain dari masalah kemanusiaan, menghancurkan garis keturunan, dan berpeluang besar untuk terjadinya kerusakan mental dan otak manusia, teknologi kloning ini juga melakukan kegiatan Jual beli embrio dan sel. Sebuah riset bisa saja mucul untuk memperjual-belikan embrio dan sel-sel tubuh hasil kloning. Transaksi-transaksi semacam ini dianggap bâthil (tidak sah) dalam islam berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1.      Seseorang tidak boleh memperdagangkan sesuatu yang bukan miliknya.
2.      Sebuah hadits menyatakan: “Di antara orang-orang yang akan dimintai pertanggungjawaban pada Hari Akhir adalah orang yang menjual manusia merdeka dan memakan hasilnya”.
Sering juga dalam kemajuan teknologi ini ada yang melakukan transfer organ untuk difungsikan pada manusia yang disebut transplantasi. Ada beberapa hewan yang sering digunakan agen transfer organ yaitu Babi dan Primata, dalam hukum islam saja sudah jelaz bahwa hewan Babi itu diharamkan, maka tidak sepatutnya lah hal itu dilakukan.
Dengan demikian, potensi keburukan yang terkandung dalam teknologi kloning manusia jauh lebih besar daripada kebaikan yang bisa diperoleh darinya, dan karenanya umat Islam tidak dibenarkan mengambil manfaat terapeutik dari kloning manusia.
Penutup
            Dari pembahasan diatas maka dapat diketahui bahwa teknologi kloning sangatlah banyak menimbulkan kemadhorotan dari pada kebaikannya, maka selayaknya kloning ini diharamkan jika kloning ini dipraktekkan pada manusia, karena hal ini akan banyak sekali menimbulkan madharat. Di sisi lain, kloning ini juga bisa memberikan manfaat bagi manusia, misalkan dalam menemukan obat penyakit yang belum pernah ditemukan, dan jikalau dilakukan pada Hewan maka akan lebih condong ada manfaatnya. Akan tetapi, ada juga keburukan yang akan timbul yaitu akan berkurang nya spesies asli, dan yang timbul adalah menyebarnya hewan-hewan transgenik, dan ini akan mengancam keanekaragaman hayati.
Sebenarnya menentukan hukum pada kloning ini memang agak rumit, karena kloning ini masalah kontemporer yang belum pernah dibahas para sahabat dan ulama’ dahulu. Menurut hemat saya, lebih baik dilihat sisi positif dan sisi negatifnya terlebih dahulu dan berpatokan pada Al-Qur’an maupun Hadits yang menyinggung jika akan menetapkan Hukum suatu hal. Sekian terima kasih.

Thursday, 14 March 2013

SEKILAS KEGIATAN RUBIK-MENJAGA HIJAUNYA KAWASAN MERAPI


MENJAGA HIJAUNYA KAWASAN MERAPI
"REBOISASI"
            Beberapa hari yang lalu tepatnya pada hari minggu tanggal 24 Febuari 2013, anggota Rubik mengadakan kegiatan perbaikan lingkungan dengan metode penanaman pohon. Rubik merupakan suatu organisasi yang bergerak dibidang lingkungan. Kata Rubik ini merupakan singkatan dari “Rumpun Biologi Kimia” yang beranggotakan mahasiswa dari jurusan Biologi/pend. Biologi dan Kimia/Pend. Kimia UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menurut Ardi (ketua umum Rubik) “memang sejatinya organisasi Rubik ini banyak bergerak di dalam bidang lingkungan, untuk menjaga dan menyelamatkan kondisi lingkungan yang semakin tidak jelas saat ini”. Upaya pelestarian lingkungan kerap kali dilakukan oleh organisasi ini, beberapa bulan yang lalu pernah mengadakan kegiatan bersih-bersih sampah di area pantai Goa Cemara Bantul dan juga menanam 1.000 pohon di daerah kalasan. Jika dilihat dalam ranah organisasi, Rubik ini bisa dikatakan suatu organisasi yang masih berumur muda, karena organisasi ini baru terbentuk kurang lebih sekitar dua tahun yang lalu.

            Penanaman pohon kali ini yang dilakukan Rubik bertemakan “Satu Pohon Untuk Sejuta Kehidupan” lokasi di Dusun Kali Adem, Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Acara ini dimulai dari jam 09.00 WIB dan selesai hingga jam 11.00 WIB. Untuk menuju lokasi penanaman para anggota Rubik sangat kesulitan, dan dalam waktu tempuh relatif cukup lama, karena jalan-jalanya penuh dengan bebatuan dan pasir. Tempat ini merupakan lahan yang tandus dengan material batu dan pasir, yang merupakan lahan kosong dari sisa-sisa material letusan Gunung Merapi beberapa tahun yang lalu. Beberapa sebagian lahan di area ini sudah pernah dilakukan reboisasi dengan penanaman pohon oleh pemerintah kabupaten sleman, namun masih banyak juga lahan yang masih kosong dan tandus.
Peserta yang ikut dalam acara ini berjumlah sekitar 70 an mahasiswa, dan dibantu oleh beberapa warga setempat yang ikut berpartisipasi dalam acara ini. Penanaman pohon yang dilakukan oleh anggota Rubik dan beberapa orang warga setempat berlangsung relatif tidak lama, kurang lebih sekitar dua jam, ini mungkin dikarenakan banyaknya peserta yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini.
            Bibit tanaman yang ditanam oleh anggota Rubik, didapatkan dari bantuan dinas kehutanan kabupaten sleman, yang telah bersedia untuk kerjasama dalam berlangsungnya kegiatan ini. Kata Maya (salah satu anggota rubik) “Jumlah bibit tanaman yang disediakan oleh dinas kehutanan kabupaten sleman untuk penanaman pohon ini adalah sebanyak 600 bibit”. Jenis-jenis tanaman yang disediakan antara lain ada tanaman Jati, Petai, dan Ketapang. Untuk menjaga tanaman agar tidak cepat mati dan kemudian bisa beradaptasi dengan lingkungan, mereka memberikan pupuk langsung pada saat penanaman.
Dana yang digunakan untuk berlangsungnya kegiatan penanaman pohon ini selain sedikit bantuan dari pihak pemerintah, juga diperoleh dari ke kretifan para anggota rubik dengan memanfaatkan kertas-kertas bekas dari mahasiswa-mahasiswa maupun dari anggota sendiri untuk dijual, dan hasil dari penjualan kertas bekas ini dikumpulkan.
            Kegiatan ini dilaksanakan tidak lain adalah bertujuan untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam, sehingga keadaan alam akan menjadi lebih baik dan dapat memperlambat terjadinya pemanasan global. “ tujuan kami melakukan penanaman pohon ini adalah sebagai bentuk rasa syukur kami atas nikmat Tuhan yang telah diberikan kepada kami berupa alam semesta ini, dan beginilah seharusnya hal yang dilakukan seorang khalifah di muka bumi, menjaga kehijauan bumi, dengan menanam pohon seperti ini” ujar Ahmad (salah satu anggota Rubik). Setelah penanaman pohon ini nantinya akan dipasrahkan kerelaan para warga lereng gunung setempat untuk menjaga dan mengawasi pertumbuhan tanaman yang telah ditanam tersebut.

Thursday, 1 November 2012

SETITIK KEBAJIKAN

Taukah kalian siapa Aku
Kenalkah pada Aku?
Aku kecil tersirat
Aku mungil terhenyap
Tiada satupun mata telanjang mampu melihat

Sering Aku...
Terpendar diseluruh penjuru
Mungkin jua Kalian sering mendengar tentangku
Carbon Dioksida panggilanku

Seluruh penjuru dunia mengenalku
Sebagai sumber keburukan
Kebahayaan
Kejelekan
Yang menjadikan kesengsaraan dan kerusakan

Memang buruk itulah kebiasaanku
Akupun menyesal
Kenapa Aku tercipta sebagi CO2
Spesialis mengadakan kerusakan-pencemaran
Semua jadi hancur tercemar
karena keberadaanku

Ozonpun tak kuasa menahan gerombolan kami
Lama hingga lama dunia akan hancur betebaran
Kini Aku merasa lega dan berjasa
Aku telah menemukan sebuah tempat singgasana
Sehingga Aku memastikan
Tuk melakukan setitik kebajikan

Terimakasih wahai makhluk berambut daun
Engkau satu-satunya pengguna jasa kebajikanku
Engkau yang telah menguraikanku
Menjadi tenaga bagi fotosintesismu
Dan glukosa lah yang telah kau buat dari uraian ku
sebagai kekuatan Engkau tumbuh

Kubersyukur pada Tuhan
Engkau telah memberi kesempatan
Tuk beramal kebajikan
Walau setitik.

(Ahmad solihin)